Kediri – Indonesia mempunyai
banyak kebudayaan. Setiap daerah bahkan mempunyai kebudayaan dan tradisi
sendiri yang beragam. Namun sayang, keragaman budaya itu tidak diimbangi oleh
tingkat pengetahuan yang tinggi dari generasi muda. Mereka cenderung lebih
tertarik kepada kebudayaan modern daripada yang tradisional.
Berdasarkan pada peristiwa itu, di acara
Perang Mading Komu School Contest VI yang diadakan di Ballroom Kediri Mall
mulai tanggal 23 sampai 24 Maret 2012, SMAN 2 Kediri bersama tim madingnya
mempersembahkan sebuah mading 3D yang mengangkat tentang tradisi Grebeg Sura.
Grebeg Sura merupakan sebuah tradisi yang ada di Ponorogo, Jawa Timur. Tradisi
ini digelar oleh masyarakat Ponorogo demi menyambut kedatangan bulan Sura atau
Tahun Baru Islam. Dibuka oleh acara penyucian pusaka-pusaka dan ditutup oleh
larung sesaji, tradisi ini telah menjadi sebuah agenda tahunan bagi masyarakat
Ponorogo.
Dengan menampilkan bentuk sesajen yang ada
di Grebeg Sura, mading 3D ini ternyata memiliki beberapa rahasia. Dari kejauan,
pengunjung memang hanya akan melihat beberapa artikel yang diletakkan di bawah
mading. Namun ternyata jika dilihat dari dekat, ada beberapa artikel yang
tersembunyi di balik buah-buahan yang menempel di sesajen. Pengunjung tinggal
membuka artikel yang tersembunyi itu dan bisa langsung membacanya. (elr)
| Istimewa : Honda vario 125 cc sambut pengunjung di pintu masuk |
Selama beberapa minggu terakhir ini,
masyarakat Indonesia sedang gempar membicarakan kenaikan BBM. Kenaikan harga
BBM ini dikhawatirkan akan menambah kesulitan masyarakat dalam berkendara.
Demi menyelesaikan masalah ini, Honda
mengeluarkan produk tebarunya: Honda Vario 125 cc, yang diklaim sebagai motor
yang irit bahan bakar karena sistem injection-nya.
Tidak tanggung-tanggung, Honda Vario ini hanya menghabiskan BBM sebesar 52,1 km
per liter.
Honda Vario 125 cc ini juga dilengkapi
dengan fasilitas helm-in yang mampu
menyimpan helm di bawah jok. Tersedia dalam 5 pilihan warna, Honda Vario 125 cc
hadir sebagai jawaban atas kekhawatiran akan naiknya harga BBM. (elr)
| Pantengin panggung : Semua pengunjung maupun peserta nampak antusias |
Kediri – Setelah sukses menyelenggarakan
pembukaan kemarin (23/3), hari ini (24/3) Komu School Contest telah memasuki
hari kedua penyelenggaraan. Sejak pukul 9 pagi, Ballroom Kediri Mall tempat
penyelenggaraan ajang pesta pelajar se eks-karesidenan Kediri ini telah ramai
oleh peserta.
Serangkaian acara telah dipersiapkan demi
memeriahkan acara ini. Pada pukul 10.00 sampai dengan pukul 12.00 akan ada
lomba akustik yang kemudian dilanjutkan lagi pada pukul 18.30 sampai dengan
21.00. Lalu pada pukul 13.00 sampai dengan 17.00 nanti akan ada Final Esther
Putri Lingkungan Sekolah. Tidak hanya itu saja. Penampilan mading-mading penuh
warna juga telah disuguhkan untuk menemani para pengunjung sampai pukul 21.00
nanti.
Jadi, bagi yang ingin melewatkan malam
Minggu bersama Komu School Contest VI, silakan datang ke Ballroom Kediri Mall
dan saksikanlah bukti-bukti kreatifitas para pelajar SMP dan SMA dari kota
Kediri dan sekitarnya! (elr)
Kediri – Hari ini (24/3) adalah hari kedua
penyelenggaraan Komu School Contest VI di Ballroom Kediri Mall. Semenjak pukul
9 pagi, para peserta sudah banyak yang datang. Beberapa dari mereka ada yang
duduk-duduk di depan panggung sementara beberapa yang lain berkumpul untuk menjaga
mading masing-masing.
Sebuah insiden terjadi mengawali pagi ini.
Mading SMA 1 Nganjuk yang berada di bagian selatan panggung roboh. Mading yang
berbentuk robot gundam ini jatuh menyamping ke kiri, sehingga mading sebelahnya
yang berbentuk topeng terkena imbasnya. Uniknya, kedua mading tersebut
sternyata sama-sama milik SMA 1 Nganjuk.
Robohnya kedua mading itu diperkirakan
terjadi sebelum Komu School Contest VI hari kedua ini dibuka. Karena sejak pagi
hari, posisi kedua mading tersebut sudah sama-sama roboh. Beruntung anggota tim
mading cepat datang, jadi kedua mading bisa cepat ditegakkan kembali. (elr)
Kediri – Tempat tinggal di luar kota
bukanlah alasan bagi peserta Flexi Journalist Blog Contest untuk tidak
bersemangat mengumpulkan berita. Hal itulah yang ada di dalam diri kedua tim
jurnalis dari SMPN 3 Tulungagung. Mereka rela nge-kos demi totalitas dalam
berkarya di ajang Komu School Contest VI yang dimulai kemarin (23/3).
| Bergegas : Dalila bersama anggota lainnya menuju kos |
Salah satu anggota tim, Dalila Fadhila
Hidayat mengatakan bahwa mereka lebih memilih nge-kos agar tidak kecapekan,
karena mereka harus terus mengumpulkan berita selama dua hari pertama
penyelenggaraan KSC VI.
“Kalau pulang nanti malah kecapekan.
Daripada gitu, sekalian aja nge-kos,” ujar gadis dengan kerudung berwarna ungu
ini.
Dukungan dari sekolah pun ikut menambah
semangat mereka untuk tetap berjuang. Apalagi tim dari Dalila ini adalah
pemenang dari kontes jurnalis blog KBC yang lalu.
“Biayanya dari sekolah. Ini adalah kali
ketiga kami ikut jurnalis blog, dan semuanya dari Radar Kediri,” tambah Dalila
yang disetujui oleh anggota timnya. (elr)
| Peserta Perang Mading tampak asyik membenai Madingnya |
Kediri – Ajang Perang Mading Komu School
Contest VI telah berlangsung. Puluhan peserta dari berbagai SMP dan SMA se
eks-karesidenan Kediri telah menunjukkan yang terbaik untuk madingnya. Dan kemarin (23/3) merupakan
saat dimana mereka harus memamerkan jerih payah mereka tersebut di Ballroom
Kediri Mall.
Ada beberapa kriteria dalam penilaian
mading ini. Seperti kesesuaian dengan tema Komu School Contest VI, artikel, dan
performance keseluruhan. Mading yang
terbuat dari bahan daur ulang pun ikut memberikan nilai tambahan. Hal itulah
yang mendasari pembuatan mading 3D milik SMK Cahaya Abadi.
Dengan memanfaatkan botol-botol bekas, tim
mading SMK Cahaya Abadi ini menyusun botol-botol tersebut menjadi dasaran
mading. Selain itu, mading yang memperlihatkan rumah-rumah Jawa itu juga
memakai sterofoam yang biasa digunakan sebagai dasaran buah untuk tanahnya.
Tidak hanya itu saja. Di belakang mading berdiri sebuah kayu dan papan
bertuliskan identitas mereka, “SMK CAHAYA ABADI”. Dan tulisan tersebut dibentuk
dari bungkus-bungkus permen. Menarik, ya?
Salah satu anggota tim menyebutkan bahwa
mereka memilih pengerjaan seperti itu karena simple. Selain itu ia menambahkan, karena kecintaan terhadap
Indonesia maka mereka mengangkat tema tradisional tersebut.
“Tema madingnya ethnic batik modern. Karena
kami cinta Indonesia. Hehehe...,” ujarnya. (elr)



